M E N U :

Minggu, 06 September 2026

Kesalahan Besar ke-14 - Not Reacting Professionally (Tidak bereaksi secara profesional)

Kesalahan Besar ke-14 - Not Reacting Professionally (Tidak bereaksi secara profesional)

"My behavior is my reaction; my reaction is my behavior."
("Perilakuku adalah reaksiku; reaksiku adalah perilakuku."

— Unknown — 

Mari kita akui: Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat ketika mereka merasa kesal dan terlalu emosional. Kita cenderung mudah mengenali kondisi ini pada orang lain, namun sulit menyadarinya saat hal itu terjadi pada diri sendiri. Pernahkah Anda bereaksi terhadap suatu situasi, lalu belakangan berharap seandainya Anda menanganinya dengan cara yang berbeda? Anda sadar bahwa Anda terus mengulangi reaksi serupa dan merasakan hal yang sama—entah itu rasa kesal, sakit hati, frustrasi, atau sikap meremehkan. Anda ingin mengubah reaksi tersebut, tetapi tidak tahu persis bagaimana caranya. Anda juga tahu bahwa hal ini berdampak buruk pada komunikasi serta efektivitas Anda dalam berinteraksi dengan orang lain. Kami menyebut kondisi ini sebagai "terjebak dalam pusaran emosi negatif" ("going down the rat hole"). Istilah ini menggambarkan situasi ketika kita membiarkan pemicu negatif memancing reaksi negatif, baik yang bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun eksternal (yang tampak keluar).

Berhentilah sejenak dan renungkan apa yang sedang terjadi dalam pikiran Anda. Kita bereaksi terhadap orang lain karena kita memiliki anggapan awal mengenai apa yang mereka inginkan, yang didasarkan pada pengalaman dan asumsi sebelumnya.

Kesalahan Besar ke-14 - Not Reacting Professionally (Tidak bereaksi secara profesional)
Kesalahan Besar ke-14 - Not Reacting Professionally (Tidak bereaksi secara profesional)

Sesuatu terjadi yang memicu reaksi dalam diri Anda dan membuat Anda berpikir, "Seandainya saja saya tidak mengatakan..." atau "Seandainya saja saya menanganinya dengan cara berbeda... kini saya merasa begitu marah, malu, frustrasi, dan terpojok."

Mengapa kita terus bereaksi dengan cara yang sama, padahal kita tahu bahwa nantinya kita akan menyesali tindakan tersebut? Kita tidak bisa menghentikan peristiwa yang memicu reaksi. Namun, kita bisa menyadari apa yang sedang terjadi serta mencermati perilaku dan reaksi kita sendiri. Kita semua menjalani hidup dengan membawa gagasan atau narasi yang sudah terbentuk sebelumnya di benak kita—tentang bagaimana segala sesuatu "seharusnya" berjalan, bagaimana orang lain mengharapkan kita bersikap, dan apa yang kita rasa perlu kita tunjukkan kepada orang lain.

Hal ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosional kita. Ingatlah bahwa kecerdasan emosional mencakup cara kita belajar mengelola emosi diri sendiri maupun emosi orang lain. Melalui penelitiannya, Daniel Goleman menunjukkan bahwa 85 persen perbedaan antara "pemimpin yang baik" dan "pemimpin yang luar biasa" terletak pada kecerdasan emosional.

Selain itu, penting untuk menyikapi setiap situasi dengan mempertimbangkan sudut pandang, kondisi, atau posisi orang lain. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas komunikasi Anda. Cobalah untuk mendengarkan dan memahami terlebih dahulu, alih-alih langsung memberikan tanggapan atau bereaksi. Sebagai contoh, bayangkan Harry sedang berbicara kepada Reginald dan berkata, "Kita tidak akan menggunakan dana ini untuk proyek tersebut. Kita akan mengalokasikannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat."

Reginald langsung merasa kesal dan mulai menganggap keputusan ini sebagai masalah pribadi. Kemudian dia berhenti, menarik napas, dan berkata, “Harry, bisakah kau ceritakan lebih banyak tentang keputusanmu? Apa yang dianggap sebagai ‘lebih baik’?”

Tenanglah, sadari bahwa itu adalah pemicu emosi, dan komunikasikan dengan tujuan untuk membangun hubungan, serta membuat keputusan terbaik.

Sisi Lain

“Bob merasa bahwa setiap kali harus melakukan presentasi dalam rapat eksekutif, ia perlu menunjukkan betapa cerdas dirinya dan seberapa mendalam riset yang telah ia lakukan terkait masalah tersebut. Hal inilah yang memicu kebiasaannya berbicara panjang lebar tanpa pernah sampai pada inti pembicaraan. Sayangnya, para eksekutif di perusahaannya mulai menganggap bahwa ia tidak memahami gambaran besarnya; padahal kenyataannya, Bob justru mengira bahwa semua fakta yang ia paparkan itu menunjukkan betapa luas pemahamannya. Ketika Bob menyadari pemicu tersebut dan paham bahwa ia tidak perlu membuktikan kecerdasannya, ia mengubah cara penyampaiannya kepada tim eksekutif. Bob melepaskan ‘narasi’ yang selama ini ada di benaknya. Hasilnya, tim eksekutif perusahaannya kini mengakui Bob sebagai salah satu individu paling kompeten yang selalu ‘tepat sasaran’.”

—Harriet Whiting, Vice President di Image Dynamics


Bagaimana Cara Menghadapi Pemicu-Pemicu Tersebut?


Praktik-Praktik Terbaik

  • Saat Anda merasa terjebak dalam situasi yang berlarut-larut tanpa hasil, berhentilah.
  • Catatlah pemicu-pemicu Anda—yaitu hal-hal di sekitar Anda yang menyebabkan Anda bereaksi secara negatif.
  • Hafalkan pemicu-pemicu tersebut dan sadarilah keberadaannya dengan segera.
  • Bersiaplah saat pemicu-pemicu itu muncul dan sadarilah bahwa hal tersebut memang akan terjadi.
  • Tetapkan tujuan sejak awal untuk tidak membiarkan diri Anda terpancing oleh pemicu tersebut. Kenali siapa yang memicu reaksi Anda. Apa yang bisa Anda pelajari dari pengalaman masa lalu dengan orang tersebut atau situasi semacam itu?
  • Berhentilah segera setelah Anda merasa terpicu, tarik napas dalam-dalam, dan renungkan reaksi Anda.
  • Sadarilah bahwa "cerita" di benak Anda mungkin bukan kenyataan yang sebenarnya.
  • Mulailah memperhatikan bagaimana reaksi Anda dapat memicu orang lain dan cari cara untuk mengubah reaksi tersebut.
  • Sadari bagaimana perilaku tertentu dapat memicu rekan kerja Anda. Sebagai contoh, langsung membahas inti pembicaraan tanpa menyapa terlebih dahulu bisa memicu reaksi negatif dari rekan kerja yang lebih mengutamakan hubungan antarmanusia.
  • Jika Anda tidak tahu cara mengubah perilaku Anda, Anda bisa mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan seorang "executive coach".


Ajukan Pertanyaan-Pertanyaan Penting Ini pada Diri Sendiri

  • Pernahkah saya berhenti sejenak saat mendapati diri saya bereaksi secara negatif, lalu menyadari bagaimana perasaan dan perilaku saya?
  • Apa yang memicu reaksi saya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah reaksi tersebut?
  • Apa yang perlu saya tanyakan agar mendapatkan kejelasan lebih lanjut untuk mengubah perilaku saya?

*****

Diambil dan diterjemahkan dari :

"16 Communication Secrets: Learn from The Biggest Blunders Professionals Make" karya Kim Zoller dan Kerry Preston.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PRODUK-PRODUK UNGGULAN