M E N U :

Minggu, 30 Agustus 2026

Kesalahan Besar ke-2 - Not Beginning With the End in Mind (Tidak Memulai dengan Membayangkan Hasil Akhirnya).

Kesalahan 2 - Not Beginning With the End in Mind (Tidak Memulai dengan Membayangkan Hasil Akhirnya).

"All that we are is the result of what we have thought." ("Segala sesuatu tentang diri kita adalah hasil dari apa yang telah kita pikirkan.")

-- Buddha --

Berpikirlah sebelum berbicara. Ini adalah konsep yang sangat mendasar, namun sulit untuk dipraktikkan. Setiap ucapan kita memiliki konsekuensi—baik positif maupun negatif. Jika kita tidak memahami tujuan besarnya, komunikasi kita dapat berdampak negatif terhadap hasilnya. Sebaliknya, jika kita mengetahui tujuan tersebut serta mempertimbangkan aspek "mengapa", "apa", dan "bagaimana"-nya, kita memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak positif pada hubungan kita. Ada percakapan yang bersifat spontan, namun ada pula percakapan yang memungkinkan kita untuk merencanakan dan memikirkannya secara matang sembari tetap mengingat tujuan akhirnya.

Catatan Tambahan

“Seorang rekan kerja baru-baru ini mengungkapkan kekesalannya karena saya tidak mengikutsertakannya dalam sebuah rapat yang menurutnya seharusnya ia hadiri. Itu adalah percakapan spontan di mana seseorang merasa kesal kepada saya, sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk merancang tanggapan saya sebelumnya. Saya sebenarnya bisa saja bereaksi dan merespons dengan berbagai cara. Namun, menanggapi secara negatif justru bisa menimbulkan masalah baru. Situasi ini menyadarkan saya akan pentingnya berhati-hati dalam memilih kata-kata demi mencapai tujuan saya.”

—Manajer media sosial di sebuah perusahaan penyelenggara acara

Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai atau tidak Anda setujui, apakah Anda akan menegurnya? Nah, apa sebenarnya tujuan Anda? Apakah Anda mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ataukah Anda hanya berasumsi? Jika Anda angkat bicara, seperti apa kira-kira dampaknya? Apakah ada risiko menimbulkan masalah dan merusak hubungan jangka panjang hanya karena penilaian atau perasaan Anda sendiri? Ingatlah bahwa ada jembatan yang tidak akan pernah bisa dibangun kembali.

Berbagai bagian otak kita menentukan bagaimana kita berperilaku. Tanpa membahas secara mendalam mengenai anatomi otak maupun studi terkait, mari kita bahas bagaimana otak berperan dalam menjaga agar tujuan komunikasi senantiasa menjadi prioritas. Otak kita memiliki tiga area; dua di antaranya yang akan kita bahas di sini (dan sempat disinggung pada bab sebelumnya) adalah bagian intelektual serta bagian reptil atau bagian "hewani" dari otak. Saat kita tidak memiliki "tujuan yang jelas" dalam benak, kita membuka peluang untuk bereaksi secara impulsif. Sebaliknya, ketika kita membuat perencanaan sebelumnya, kita dapat mengendalikan reaksi-reaksi dasar otak tersebut. Dalam dunia bisnis, reaksi impulsif semacam itu jarang sekali membuahkan hasil positif. Bagaimana caranya mengaktifkan bagian intelektual otak sekaligus meminimalkan kemungkinan bagian "hewani" bereaksi secara spontan? Buatlah perencanaan. Pikirkan percakapan yang akan Anda lakukan. Catatlah segala kemungkinan dampak negatif yang bisa muncul serta bagaimana lawan bicara mungkin bereaksi. Pertimbangkan reaksi-reaksi tersebut dan pikirkan bagaimana Anda akan meresponsnya secara tepat demi mencapai tujuan Anda. Inilah cara Anda mengembangkan kecerdasan emosional di tempat kerja.

Definisi Kecerdasan Emosional

“Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mempersepsikan emosi, mengakses dan membangkitkan emosi guna mendukung proses berpikir, memahami emosi dan pengetahuan emosional, serta meregulasi emosi secara reflektif demi mendorong pertumbuhan emosional dan intelektual.”

—John Mayer dan Peter Salovey,
pengembang teori kecerdasan emosional

Catatan Tambahan

“Merencanakan percakapan memungkinkan Anda mengasah keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasi serta menyelaraskan tujuan Anda dengan tujuan lawan bicara, sekaligus merumuskan rencana Anda dengan cara yang sesuai dengan gaya komunikasi audiens. Pada dasarnya, saya adalah orang yang sangat emosional dan sensitif. Saya cenderung memasukkan segala sesuatu ke dalam hati, dan sering kali, kata-kata-lah yang paling menyakitkan. Saya kerap kesulitan menyampaikan isi pikiran karena tertutup oleh perasaan saya sendiri. Berkali-kali saya gagal menyampaikan maksud saya—betapapun valid atau kuatnya argumen tersebut—karena saya terlihat terlalu emosional (entah itu kesal atau terlalu antusias), sehingga orang-orang yang saya harapkan dukungannya sudah mengabaikan poin saya bahkan sebelum lima menit percakapan berlalu. Mempelajari cara merencanakan percakapan secara efektif benar-benar mengubah cara saya berinteraksi di dunia korporat. Hal ini memberi saya kemampuan untuk berkomunikasi secara paling efektif, menyesuaikan diri dengan tujuan dari setiap percakapan yang saya lakukan. Produktivitas saya meningkat pesat, hubungan dengan rekan satu tim membaik, dan saya membangun reputasi yang lebih profesional serta disegani di mata rekan sejawat maupun jajaran pimpinan. Meluangkan waktu beberapa menit saja untuk merencanakan percakapan akan memberikan dampak yang sangat besar!”

—Alexandra Wilinksi, Capgemini

PRAKTIK-PRAKTIK TERBAIK

  • Sadarilah bahwa masa lalu dapat memengaruhi persepsi seseorang mengenai suatu situasi.
  • Jika memungkinkan, rencanakan percakapan Anda untuk memastikan komunikasi Anda selaras dengan tujuan Anda.
  • Antisipasilah reaksi negatif yang mungkin muncul, serta siapkan cara agar Anda tidak terpancing oleh reaksi orang tersebut.
  • Pertimbangkanlah waktu yang Anda pilih serta dampaknya; konteks situasi dapat memengaruhi segalanya.
  • Setiap orang memiliki agendanya masing-masing; lihatlah dari kedua sisi.
  • Carilah kejelasan sebelum membuat asumsi.
  • Berpikirlah sebelum berbicara. Bahkan saat Anda dipaksa untuk membela diri, ingatlah tujuan Anda.
  • Pikirkanlah apa yang akan Anda capai dengan mengatakan sesuatu.

AJUKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING INI PADA DIRI SENDIRI

  • Pernahkah saya berharap bisa menarik kembali ucapan saya kepada seorang rekan kerja?
  • Jika saya bisa mengubah hasilnya, apa yang akan saya lakukan secara berbeda di lain waktu? Apa yang telah saya pelajari?
  • Bagaimana cara saya mengelola reaksi dan emosi dengan lebih baik untuk mencapai tujuan komunikasi dan hubungan saya?

*****

Diambil dan diterjemahkan dari :

"16 Communication Secrets: Learn from The Biggest Blunders Professionals Make" karya Kim Zoller dan Kerry Preston.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar