M E N U :

Minggu, 30 Agustus 2026

Kesalahan Besar ke-1 : Not Being on Your A-Game (Tidak Berada dalam Performa Terbaik).

"Yesterday’s home runs don’t win today’s games. (Home run kemarin tidak memenangkan pertandingan hari ini.)"

-- Babe Ruth --

Apa bedanya satu derajat? Jika Anda merasa kepanasan saat suhu mencapai 95 derajat, Anda akan tetap merasa kepanasan saat suhu naik menjadi 96 derajat. Air sudah sangat panas pada suhu 211 derajat, namun pada suhu 212 derajat, air itu mendidih. Air yang mendidih menghasilkan uap yang kekuatannya cukup untuk menggerakkan kereta api. Satu derajat itulah yang mengubah segalanya. Bayangkan apa yang diperlukan bagi Anda untuk mengubah permainan Anda.

Pemikiran dan perencanaan yang matang adalah kunci untuk menghadirkan perubahan dalam gaya dan pendekatan komunikasi Anda. Anda memiliki pilihan: membuat perbedaan atau sekadar menjadi sama seperti orang lain. Apakah sepadan untuk berpikir lebih mendalam—sedikit saja lebih jauh—atau apakah mempertahankan keadaan seperti biasa terasa lebih mudah?

Menampilkan performa terbaik adalah soal pola pikir. Ini adalah sikap positif secara menyeluruh terhadap perubahan yang ingin Anda wujudkan dalam hidup Anda sendiri maupun kehidupan orang lain. Coba pikirkan: jika Anda sejenak mengambil jarak dan berfokus mencari solusi setiap kali terjadi konflik, bukankah Anda akan menjadi sosok pembawa perubahan? Bukankah hal itu akan membuat hidup lebih mudah, baik bagi Anda maupun orang-orang di sekitar Anda?

Anda mungkin familiar / mengenal dengan situasi berikut ini. Penerbangan mengalami penundaan dan seseorang—mungkin Anda—tidak akan sempat mengejar penerbangan lanjutan. Tidak hanya tertunda, penerbangan tersebut juga mengalami "overbooking" (kelebihan pemesanan) sehingga ada penumpang yang kehilangan kursinya. Penumpang itu berteriak-teriak memarahi petugas maskapai. Petugas tersebut menanggapi dengan nada bicara yang ketus dan kasar, "Tidak ada yang bisa saya lakukan. Silakan duduk saja." Penumpang itu pun murka, dan pertikaian baru saja dimulai.

Seandainya penumpang maupun petugas maskapai tersebut bersikap dengan sangat baik dan profesional, situasi itu pasti akan memiliki nuansa dan suasana yang jauh berbeda. Hasil akhirnya mungkin tidak berubah, namun jika percakapan dilakukan dengan tenang, penuh empati, dan profesional, ada kemungkinan sebesar 80 persen bahwa petugas akan bersedia membantu atau penumpang tersebut akan menjadi lebih tenang.

Catatan Tambahan

“Baru-baru ini, saya sangat senang bisa mendapatkan penerbangan lebih awal, yang berarti saya bisa tiba di rumah lebih cepat setelah seminggu penuh bepergian. Tiket pesawat itu ternyata terjual melebihi kapasitas ("oversold"), dan saya ditempatkan di kursi tengah pada baris paling belakang. Saat sedang mengantre, saya melihat seorang wanita di depan saya sedang berdebat dengan petugas gerbang keberangkatan mengenai kursinya. Dia bersikeras bahwa dirinya adalah pelanggan istimewa dan memprotes mengapa petugas tidak memberinya kursi yang lebih baik. Petugas itu bersikap sangat sopan dan terus mengulang kalimat, ‘Mohon maaf sekali, tapi kami sudah tidak memiliki kursi kosong.’ Wanita itu tetap berdiri di sana selama lima menit lagi, mendesak petugas untuk mencarikan kursi lain, sementara petugas terus mengulang kalimat yang sama. Akhirnya, pelanggan itu pun pergi. Saat giliran saya tiba, saya tersenyum kepada petugas tersebut, dan kami saling bertukar pandang dengan pemahaman diam-diam yang menyiratkan, ‘Saya mengerti situasinya; wanita tadi sungguh merepotkan!’ Kemudian, saya berbicara kepada petugas itu sembari tersenyum ramah, ‘Saya sangat senang bisa ikut penerbangan ini. Sepertinya tidak ada kursi kosong lagi, tapi apakah ada kemungkinan saya bisa mendapatkan kursi yang lebih baik?’ Petugas itu menatap saya, tersenyum, lalu berkata, ‘Semuanya bergantung pada cara kita menyampaikannya,’ seraya memberikan saya kursi yang sangat nyaman di baris depan ("bulkhead"). Benar kata pepatah, kita lebih mudah menarik perhatian dengan madu daripada cuka. Ini adalah pelajaran lain tentang bagaimana cara berkomunikasi untuk mencapai tujuan.”

—Kim Zoller, Image Dynamics

Memiliki sikap positif bukan berarti Anda harus berjalan dengan senyum lebar sepanjang hari, setiap hari. Sikap ini berarti mengambil jeda sejenak untuk menarik napas saat ada hal yang tidak berjalan lancar. Ini berarti mempertimbangkan skenario terburuk sembari memikirkan solusinya, alih-alih hanya berfokus pada masalah itu sendiri atau siapa penyebabnya. Ini berarti bersikap terbuka dan hadir sepenuhnya, tidak menutup diri terhadap situasi di sekitar Anda. Hal ini juga berarti menyadari bahwa Anda tidak bisa mengendalikan segalanya. Pada akhirnya, ini berarti mengendalikan reaksi Anda sendiri.

Intinya, orang-orang tidak ingin berada di dekat pribadi yang negatif. Mereka enggan bekerja sama dengan orang yang tidak bisa diajak berkomunikasi secara positif. Situasi bisa menjadi kacau di saat-saat yang paling tidak tepat—misalnya, saat kita sedang terburu-buru atau harus menyelesaikan tugas yang tenggat waktunya sudah lewat. Dalam situasi seperti itu, kita memiliki pilihan untuk tetap bersikap baik kepada orang lain dan tidak bereaksi secara negatif. Dalam setiap pertemuan atau seminar yang membahas perbandingan antara bereaksi impulsif dan tetap tenang serta bersikap baik kepada orang di sekitar, benang merahnya adalah bahwa mereka yang mudah berubah suasana hatinya (moody) dan reaktif dianggap kurang profesional. Tidak ada orang yang ingin bekerja sama dengan mereka yang bereaksi berlebihan saat terjadi masalah.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Carnegie Institute of Technology, 15 persen dari faktor yang menentukan keberhasilan Anda dalam mendapatkan pekerjaan, mempertahankannya, dan meraih kemajuan dalam karier tersebut—apa pun profesi Anda—bergantung pada keterampilan dan pengetahuan teknis; sementara 85 persen sisanya ditentukan oleh keterampilan serta pemahaman Anda dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk antusiasme, senyuman, nada bicara, tanggung jawab pribadi, serta integritas moral dan etika. Hasil dari komunikasi kita sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita untuk menjalin hubungan baik dengan sesama.

Buku ini memuat berbagai praktik terbaik; kami menantang Anda untuk menerapkannya secara konsisten. Di bagian akhir buku, terdapat rencana tindakan untuk meraih kesuksesan berkelanjutan serta daftar periksa metrik yang dapat Anda terapkan. Jika Anda benar-benar mempraktikkan metode-metode ini, hasil interaksi Anda akan berubah. Kami telah menguji sendiri praktik-praktik ini, mengamati pola komunikasi orang lain, dan mewawancarai ribuan orang mengenai apa yang mereka yakini sebagai kunci komunikasi yang efektif. Saat kita menangani berbagai hal dengan mengerahkan kemampuan terbaik kita, hasilnya pun senantiasa positif.

Tidak ada yang lebih baik dalam menggambarkan konsep tampil dengan performa terbaik ("A-game") selain pelatih sepak bola legendaris Vince Lombardi, yang dikenal karena pemikirannya tentang kemenangan dan kekalahan. Lombardi menekankan bahwa kemenangan adalah sebuah kebiasaan dan seseorang harus bermain dengan mengerahkan segala kemampuan—bukan hanya fisik, tetapi juga pikiran. Ia mengibaratkan permainan sepak bola dengan dunia bisnis; untuk meraih kemenangan dalam bisnis, seseorang perlu bermain dengan melibatkan hati, pikiran, dan seluruh jiwa raganya. Tampil dengan performa terbaik berarti mengerahkan segala kemampuan yang Anda miliki. Hal ini bukan sekadar mencoba-coba atau melakukan upaya setengah hati, melainkan tentang melibatkan diri sepenuhnya.

Kehadiran seorang pelatih yang memotivasi dan mendorong kita untuk bermain demi kemenangan akan memberikan perbedaan nyata. Dalam keseharian, kita harus mampu menjadi pelatih bagi diri sendiri yang senantiasa memotivasi dan memacu semangat kita. Luangkan waktu untuk memikirkan hasil yang ingin dicapai dan selalu tampilkan performa terbaik dengan menerapkan praktik-praktik terbaik. Amatilah orang lain dan catatlah perilaku serta tindakan tambahan yang mencerminkan performa terbaik tersebut.

Praktik Terbaik

  • Hentikan kebiasaan berbicara negatif kepada diri sendiri. Ucapkanlah hanya kata-kata yang baik kepada diri Anda. Contohnya: "Saya sudah berusaha keras," "Saya belajar dari pengalaman itu," atau "Saya selalu memberikan yang terbaik dalam berbagai situasi." (Kami menemukan bahwa kebiasaan berbicara negatif pada diri sendiri terjadi di semua tingkatan dan usia. Orang-orang yang paling sukses—termasuk mereka yang memiliki kemampuan komunikasi terbaik—menyadari hal ini dan segera mengubah pola pikir tersebut begitu mereka menyadarinya.)
  • Waspadai bagaimana pikiran Anda bisa menciptakan situasi negatif yang sebenarnya tidak ada. Kendalikan pikiran-pikiran tersebut. (Lihat Kesalahan Besar 10: Membuat Asumsi.)
  • Waspadai distorsi mental yang dapat menghambat performa terbaik Anda. (Lihat Kesalahan Besar 10: Membuat Asumsi.)
  • Perhatikan nada bicara Anda. Hindari kesan sarkastis, diktator, merendahkan, atau sombong. Jika Anda tidak yakin bagaimana orang lain menangkap maksud Anda, mintalah masukan dari orang yang Anda percayai. Atau lebih baik lagi, perhatikan bagaimana reaksi orang lain terhadap Anda.
  • Cobalah untuk memahami sudut pandang orang lain. Empati berarti bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana perasaan saya jika berada dalam situasi ini?"
  • Dengarkan orang lain. Bisakah Anda mengingat apa yang dikatakan seseorang lima menit setelah percakapan berakhir? Berhentilah berpikir dan mulailah mendengarkan. Hindari memikirkan hal lain saat orang lain sedang berbicara.
  • Bersiaplah. Luangkan waktu untuk merencanakan komunikasi agar Anda menggunakan bagian "intelektual" otak Anda, yang memungkinkan Anda untuk melakukan evaluasi. Hindari penggunaan bagian otak "reptil", yang memicu reaksi tanpa berpikir.
  • Tetapkan tujuan untuk interaksi Anda dengan orang lain. Sebelum memulai interaksi apa pun, rencanakan bagaimana Anda akan bersikap demi mencapai performa terbaik Anda.
  • Fokuslah pada hal-hal yang memberikan dampak nyata. Perhatikan ke mana Anda mencurahkan energi internal Anda. Jika Anda merasa emosional terhadap sesuatu, tanyakan pada diri sendiri apakah hal itu layak mendapatkan begitu banyak perhatian, atau apakah energi tersebut bisa dialihkan ke hal yang lebih konstruktif.
  • Cobalah untuk menawarkan bantuan kepada orang lain. Ingatlah bahwa semakin banyak Anda membantu orang lain, semakin banyak pula manfaat yang akan Anda terima kembali. Ini bukan semata-mata tentang diri Anda sendiri.
  • Tetaplah tenang. Ciptakan teknik yang membantu Anda mencapai ketenangan tersebut. Tarik napas dan embuskan napas dengan durasi dua kali lebih lama daripada saat Anda menarik napas. Rilekskan bahu dan ekspresi wajah Anda.
  • Rancang skenario terburuk yang mungkin terjadi. Ini mencakup segala potensi risiko yang mungkin muncul atau wawasan penting dari pengalaman masa lalu.

 Ajukan Pertanyaan-Pertanyaan Penting Ini pada Diri Sendiri

  • Pernahkah saya melihat hasil berubah dari negatif menjadi positif berkat cara saya menangani situasi tersebut?
  • Apakah saya terpengaruh oleh sikap negatif orang lain? Apakah cara berkomunikasi saya berubah akibat sikap negatif itu? Bagaimana hal tersebut memengaruhi performa terbaik saya
  • Pernahkah saya kehilangan pekerjaan atau gagal mendapatkan promosi padahal saya merasa keahlian saya sangat cocok? Apa yang sebenarnya luput dari pengamatan saya?

*****

Sumber :

"16 Communication Secrets: Learn from The Biggest Blunders Professionals Make" karya Kim Zoller dan Kerry Preston.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar